Mahasiswa UNAS, Kolaborasi dengan 149 Mahasiswa Mancanegara Bahas ‘Religious Freedom’ di Vienna
Pandu beserta delegasi lain yang berasal dari Amerika, Nigeria, India, Austria, dan Afghanistan ini membahas permasalahan yang terjadi di negara masing – masing seperti kekerasan, diskriminasi dan pembatasan – pembatasan dalam lingkup beragama.
Jakarta (UNAS) – Menjadi mahasiswa yang mampu bersaing tidak hanya di tingkat nasional tapi juga Internasional merupakan harapan setiap orang. Mahasiswa program studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Nasional, berhasil membuktikannya.

Setelah sukses mejejakkan kaki di negeri Paman Sam tahun lalu, I Gede Pandu Wirawan kembali membuktikan pengaruh besar dari keaktifannya di dalam organisasi pendidikan dengan dicapainya kesempatan bertandang ke Vienna, Austria pada Februari lalu. Bukan tanpa tujuan, Pandu besama 149 pemuda lain dari berbagai negara di dunia justru membahas tiga isu besar yakni religious freedom in a context of religious pluralism, media pluralism, dan migration, integration and mobility in the global economy.

“Kami dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan pilihan pada bidang masing – masing saat registrasi awal. Setelah berdikusi panjang lebar, finalnya adalah pembuatan beberapa poin rekomendasi untuk United Nation Alliance of Civilization (UNAOC) yang akan dibacakan dihadapan Sekretariat Jenderal PBB, Ban Ki-Moon keesokan harinya,” papar Pandu saat ditemui Kamis (7/3).

Sebelum merumuskan rekomendasi – rekomendasi tersebut, Pandu beserta delegasi lain dalam kelompoknya yang berasal dari Amerika, Nigeria, India, Austria, dan Afghanistan ini membahas permasalahan – permasalahan yang terjadi di negara masing – masing. Diantaranya adalah seputar kekerasan, diskriminasi dan pembatasan – pembatasan dalam lingkup beragama. “Kita juga membahas definisi agama dan keyakinan dari tiap – tiap negara, jika dilihat memang ada beberapa negara yang memiliki kesamaan kondisinya dengan Indonesia, salah satunya adalah tentang kekerasan yang mengatas namakan agama,” imbuh mahasiswa yang baru saja menyelesaikan studi S1 Hubungan Internasional itu.

Tidak hanya Indonesia, Pandu pun mendapat berbagai informasi menarik seputar kondisi di negara lainnya. Contohnya saja di Jerman yang membatasi penggunaan simbol – simbol agama pada fasilitas – fasilitas umum atau tempat – tempat tertentu seperti sekolah, kampus, dan lainnya. “Saat dikusi berlangsung, delegasi negara Myanmar juga mengkonfirmasi tentang kasus Rohingya yang sebenarnya tidak serumit yang diberitakan di media,” pungkas Pandu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *